Rabu, 29 Mei 2013



Press Release

Dies Maulidiyah TESS (Teater Sanggar Satria) Mahasiswa Mempersembahkan Pementasan “FANKA”

Banyak yang beranggapan bahwa orang-orang sekarang menganut paham atheis, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya mempunyai kreasi yang menarik untuk menggambarkan sosok mimpi seorang atheis tentang kematiannya dengan berteater dengan judul “FANKA” yang berarti kafan. Rencananya acara tersebut dilaksanakan pada Senin (10/6) mulai pukul 18.00 malam di halaman kampus di Jalan Sutorejo 59 Surabaya.
Dalam acara Dies Maulidiyah TESS tidak hanya penampilan “FANKA” yang dimainkan masih banyak penampilan dari Universitas yang lainnya seperti penampilan musikalisasi puisi, baca puisi. Setelah selesai penampilan diadakan sering bersama dengan teater yang lain, tetapi dari acara Dies Maulidiyah yang paling utama yaitu penampilan “FANKA”.
Penampilan dari berteater “FANKA” tersebut, untuk menunjukkan pada teater dari Universitas lain yang datang pada acara Dies Maulidiyah TESS bahwa TESS masih hidup dan bangkit kembali untuk berkarya. TESS masih bisa berkreasi, berekspresi lagi untuk berseni dengan menunjukkan penampilan “FANKA” tersebut.

CP: Idatur 08564.....

Kamis, 23 Mei 2013

Tugas Jurnalistik


Hasil dari wawancara saya kepada salah satu Mahasiswa UMSurabaya kemudian saya jadikan dalam bentuk berita.

Mahasiswa UMSurabaya yang Membayar Kuliah dengan Uang Keringatnya Sendiri


Inilah sosok mahasiswa yang membayar kuliah dengan biaya sendiri dengan nama  Maftuchatus Saidah S1 Pendidikan Biologi yang berada di semester empat, dia biasa dipanggil oleh temannya dengan panggilan Iid. Hampir mahasiswa UMSurabaya mengenal sosoknya, Iid juga seorang aktifis di kampus dan aktif dalam berorganisasi. Organisasi yang diikutinya ada lima organisasi yaitu di Biosfer menjabat sebagai Kabid PSDM, IMM, TS (Tapak Suci), Teater, dan Kewirausahaan. Iid juga sebagai Duta Kampus di UMSurabaya. Inilah kisah perjalanan sosok Iid mulai dari awal masuk kuliah dia bertekad dalam hati untuk tidak meminta uang sepeserpun untuk membayar kuliah, dan alhamdulilah hal itu terwujud sampai saat ini semester empat.
 Iid melangkahkan kakinya menuju UMSurabaya dengan uang hasil keringatnya sendiri, sungguh luar biasa subhanaallah patut diacungi jempol dan dapat ditiru langkah dan tekatnya yang sangat pemberani dan gigih bekerja mencari uang untuk membayar kuliah, makan, dan membayar kosan. Wah bagaimana bisa ya, Iid mengatur waktu antara kerja dan kuliah. Ternyata paginya Iid kuliah dan malamnya ia memberikan bimbingan belajar sehingga waktunya tidak berbenturan antara kerja dan kuliahnya. Iid juga bekerja di urgensi perusahaan yang waktu kerjanya bisa diatur bebas dilakukan kapan saja (free line) , memberikan bimbingan belajar dalam seminggu dua kali yaitu hari rabu dan jumat yang dilaksanakan pada pukul 18.00 malam. Sedangkan  dulunya awal masuk kuliah Iid memberikan bimbingan belajar mengambil empat sampai lima kali dalam seminggu tetapi untuk sekarang Iid sudah menguranginya karena terlalu banyak dan terlalu jauh tempatnya,  jadi untuk saat ini ia mengambil dua kali dalam satu minggu, kemudian antara kuliah, kerja, dan organisasi bagaimana membagi waktunya.
Ternyata Iid mempunyai motto dalam hidupnya yaitu jangan sampai kita yang diatur waktu tapi sebaliknya sebisa mungkin kita harus mengatur waktu dengan sebaik-baiknya dan memanfaatkannya, karena waktu sedetikpun itu sangatlah berharga untuk melakukan suatu kegiatan apapun, wah motto yang sangat bagus dan boleh dipakai juga mottonya. Ternyata ia pertama mengutamakan kuliah kedua organisasi dan yang ketiga kerja untuk menyambung hidupnya, bila saat kerja dan organisasi berbenturan waktunya, Iid memilih mengutamakan organisasi jika organisasi itu sifatnya penting dan tidak bisa ditinggalkannya maka ia akan memilih organisasi yang didahulukan. Dan bagaimana cara Iid untuk belajar dengan agenda yang padat seperti itu jawabannya ternyata sangat simpel sekali ia belajar sesempatnya saja bila malam selesai memberikan bimbingan belajar dan juga selesai organisasi di kampus jika belum capek Iid menyempatkan baca buku dan jika malamnya tidak sempat karena terlalu capek Iid mengganti menyempatkan baca buku setelah sholat tahajud atau selesai sholat shubuh. Ketika saya mengajukan  pertanyaan pernahkan anda saat pulang kerumah dan balik ke Surabaya diberi uang saku oleh orang tua anda? dan jawabannya jika saya pulang niat saya hanya bertemu kangen dengan keluarga ketika saya diberi uang saat mau balik ke Surabaya jika kondisi orang tua ada, cukup, dan ketika saya belum ada uang untuk makan ya saya terima, tapi itu tidak banyak jumlahnya itupun jarang hanya sekali saja saya menerimanya, dan sebaliknya ketika kondisi orang tua tidak ada uang dan jika saya memegang uang lebih, saya memberikan sedikit hasil dari uang kerja saya.
 Iid juga sedikit bercerita tentang pengalamannya ketika Iid pernah belum bisa membayar uang kuliah pada waktu UAS tiba, karena uang gaji dari memberi bimbingan belajar tak kunjung datang pada saat itu ia meminjam uang temannya terlebih dahulu untuk membayar UAS tersebut, dan ketika saat gajinya sudah keluar baru ia menggantinya. Inilah pendapat sosok Iid di mata mahasiswa Prodi Matematika dan teman sekelasnya sendiri ketika saya bertanya pada salah satu anak Prodi Matematika tentang sosok Iid  itu bagaimana menurut anda ternyata jawabannya begitu bagus dia menilai sosok Iid, katanya anaknya lucu, suka becanda, muslimah, mandiri dan sangat menginspirasi anak-anak muda, dan jawaban dari teman sekelasnya pun begitu tak kalah bagusnya dia bilang Iid itu anaknya dewasa, lucu, suka becanda, kritis dalam waktu perkuliahan, kreatif, dan mandiri. Wah bisa menjadi contoh dan motifasi buat anak-anak muda yang lainnya ni, itulah tadi sedikit cerita dari sosok Iid mahasiswa UMSurabaya yang membayar kuliah dengan uang keringatnya sendiri semoga kalian bisa termotifasi dan terinspirasi dari sosok Iid.