Roti
kukus terbuka lebih layak dikonsumsi daripada roti kukus terbungkus
rapat
Kali
ini saya akan menginvestigasi mengenai roti kukus yang terbuka dengan roti
kukus yang terbungkus rapat dengan plastik,
yang biasanya digemari oleh semua kalangan masyarakat, mari kita liat
ya....
Roti kukus terbuka Roti kukus terbungkus
Sebenarnya roti kukus
adalah roti yang terbuat dari tepung terigu, telur, gula putih, pewarna
makanan, dan vanili yang bentuknya sangat menarik dan menawan rasanya pun enak
bila dimakan, dan harganya pun terjangkau. Tak heran jika banyak digemari oleh
semua kalangan masyarakat luas mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan orang
tua.
Namun, ternyata tak
selamanya roti yang terbuka kurang baik dimakan daripada roti yang terbungkus
rapat dengan plastik. Ketika saya melakukan wawancara dengan seorang mahasiswa
D3 Analis Kesehatan UMSurabaya
kebetulan dia juga sedang membuat tugas KTI mengenai perbandingan roti kukus
terbuka dengan roti kukus yang terbungkus rapat. Ketika dia melakukan riset
pada sampel penelitian sebanyak 40 roti kukus yang diambil dari 8 penjual roti
kukus di Pasar Tanjungbumi Kecamatan Tanjungbumi Kabupaten Bangkalan Madura.
Lagi-lagi ternyata
setelah dilakukan uji Laboratorium Mikrobiologi di Universitas Muhammadiyah
Surabaya jalan Sutorejo 59, Setiap bahan dari roti kukus pasti terdapat kuman,
tapi masing-masing produk mempunyai Standar
Nasional yang sudah ditetapkan sehingga aman dikonsumsi, untuk
mengetahui jumlah kuman dengan cara mengambil sampel roti kukus baik yang
terbuka maupun yang terbungkus dari masing-masing penjual. Dengan cara
pemeriksaan angka lempeng total (ALT) dan hasilnya pun menunjukkan bahwa
rata-rata jumlah kuman dari roti kukus yang terbuka yaitu 3,5x103
CFU sedangkan yang terbungkus 5,4x103 CFU, setelah dibandingkan dengan SNI diperoleh
hasil ALT roti kukus yang terbuka 17 memenuhi syarat SNI dan 3 tidak memenuhi
syarat SNI sedangkan roti kukus yang terbungkus 16 memenuhi syarat SNI dan 4
tidak memenuhi syarat SNI . Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) 7388:2009
jumlah ALT maksimal yang aman dikonsumsi adalah 1x104 CFU. Sehingga roti
kukus yang terbuka lebih layak di konsumsi dibanding dengan roti kukus yang terbungkus
rapat.
Untuk hasil wawancara
pada para penjual roti kukus mereka memakai bahan-bahan yang masih menggunakan
bahan yang memenuhi standar seperti gula mereka menggunakan gula asli bukan
pemanis buatan, namun untuk pewarna roti kukusnya, mereka menggunakan pewarna sintesis
yang dijual di pasaran seperti warna coklat dari
bubuk coklat. Begitu pula perasa dari pembuatan roti kukus menggunakan perasa
sintesis.
Apabila roti kukus yang
tidak memenuhi syarat SNI sering dikonsumsi maka berdampak negatif bagi
kesehatan. Akibatnya yaitu bisa mengganggu pencernaan, diare, dan keracunan.
Jadi untuk para pembeli lebih berhati-hatilah memilih atau membeli roti baik
roti yang terbuka maupun yang terbungkus, bila Anda ingin mengetahui apakah roti
yang Anda makan mengandung pewarna makanan atau tidak, yaitu dengan cara bila
warna roti terlihat mencolok berarti itu mengandung warna non pangan sedangkan
bila warna roti tidak terlalu mencolok berarti itu pewarna alami makanan.